Road to "The City With Perfect Defense" #2
"..Seandainya semua apa yang kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini..." , ucap Heraklius ketika berdialog dengan Abu Sufyan mengenai Nabi Muhammad SAW.
Ucapan Heraklius ini tidak meleset.
Tahun itu juga, 629 M, tepatnya bulan September ( Jumadil Ula - 8H ) 3 ribu pasukan muslimin dan 200 ribu pasukan Romawi bertemu di Mu'tah ( sekarang berada di wilayah dekat Kerak, Yordania ) dan inilah kali pertama umat muslim berhadapan dengan tentara Romawi di medan pertempuran.
Pasukan ini dikirim oleh Nabi Muhammad SAW karena dilatarbelakangi oleh terbunuhnya delegasi nabi SAW yaitu Harits bin Umair. Ia dikirim untuk menyampaikan surat dakwah nabi kepada Gubernur Bashra (Hanits bin Abi Syamr Al-Ghassani) yang baru saja dilantik oleh kekaisaran Romawi. Harits bin Umair ditangkap di Mu'tah oleh Syurahbil bin Amru Al-Ghassani dan menghadapkannya ke Penguasa Bashra kemudian membunuhnya. Pembunuhan delegasi ini merupakan suatu bentuk kriminal yang keji dan merupakan suatu bentuk pernyataan perang.
Sebelum keberangkatan pasukan dari Madinah, Nabi SAW memberikan pimpinan dan panji berwarna putih kepada Zaid bin Haritsah lalu beliau bersabda :
"Apabila Zaid gugur, maka panglima pasukan digantikan oleh Ja'far bin Abu Thalib. Apabila Ja'far bin Abu Thalib gugur, maka digantikan oleh Abdullah bin Rawahah."* (HR. bukhari)
Dalam peperangan ini, mereka berhadapan dengan 200 ribu pasukan Romawi yang terdiri dari 100 ribu prajurit bersenjata lengkap dan 100 ribu prajurit dari pasukan sekutu Romawi yaitu Bani Judzam, Balqain, Bahra', dan Bali.
Pasukan Islam terus berjalan. Ketika mereka tiba di perbatasan Al-Balqa' tepatnya di desa Masyarif, mereka berpapasan dengan pasukan Romawi dan pasukan sekutu Arab. Kedua pasukan itu saling merapat, namun kaum Muslimin bergerak menuju daerah Mu'tah. Di sanalah, pasukan yang 'berani mati' dan yang 'tidak berani mati' bertemu. kedua belah pihak berhadapan. Kaum Muslimin bersiap-siap menghadapi musuh dengan menunjuk Quthbah bin Qatadah r.a seorang sahabat dari Bani Udzrah sebagai pemimpin pasukan sayap kanan sedangkan pada sayap kiri dipimpin oleh Ubadah bin Malik r.a seorang sahabat dari kaum Anshar. Pertempuran ini berlangsung selama kurang lebih 3 hari dan dalam pertempuran ini, ketiga pemimpin pasukan Islam (Zaid, Ja'far, dan Abdullah bin Rawahah radhiyallahu anhum) mati syahid.
Setelah kematian ketiga pemimpin tersebut, panji di pegang oleh Tsabit bin Aqram r.a kemudian ia memberikannya kepada Khalid bin Walid r.a. Khalid sempat menolak tawaran itu karena pada pertempuran tersebut masih ada Ahli Badr yang notabene mempunyai keistimewaan di mata Allah swt namun setelah itu ia pun menerima tawaran itu dan di tangan '"pedang Allah " inilah pertempuran semakin seru. Dengan kecerdasan strategi perangnya, Khalid mengubah posisi pasukan 180 derajat agar dapat mengelabui dan memadamkan secara sempurna api semangat pasukan Romawi yang sudah mulai sirna. Pasukan ini di susun seapik mungkin dengan komposisi pasukan yang awalnya berada dibelakang menjadi di depan dan yang berada di front kanan beralih ke kiri begitupun sebaliknya. Strategi ini juga bertujuan agar mengurangi jumlah korban yang mati di pihak muslimin dan kaum muslimin bisa mendapatkan kemenangan dan kembali ke Madinah dengan selamat.
Setelah kematian ketiga pemimpin tersebut, panji di pegang oleh Tsabit bin Aqram r.a kemudian ia memberikannya kepada Khalid bin Walid r.a. Khalid sempat menolak tawaran itu karena pada pertempuran tersebut masih ada Ahli Badr yang notabene mempunyai keistimewaan di mata Allah swt namun setelah itu ia pun menerima tawaran itu dan di tangan '"pedang Allah " inilah pertempuran semakin seru. Dengan kecerdasan strategi perangnya, Khalid mengubah posisi pasukan 180 derajat agar dapat mengelabui dan memadamkan secara sempurna api semangat pasukan Romawi yang sudah mulai sirna. Pasukan ini di susun seapik mungkin dengan komposisi pasukan yang awalnya berada dibelakang menjadi di depan dan yang berada di front kanan beralih ke kiri begitupun sebaliknya. Strategi ini juga bertujuan agar mengurangi jumlah korban yang mati di pihak muslimin dan kaum muslimin bisa mendapatkan kemenangan dan kembali ke Madinah dengan selamat.
Pertempuran ini memakan korban yang cukup banyak di pihak Romawi dan di pihak muslimin hanya sedikit yaitu sekitar 12 orang yang mati syahid disini.
Pertempuran inilah, yang menyebabkan Islam semakin eksis di wilayah Jazirah Arab. Pertempuran ini juga menjadi awal keruntuhan harga diri Romawi di wilayah kekuasaannya terutama di wilayah Arab dan menjadi awal bagi ekspansi islam menuju wilayah kekuasaan Romawi yaitu Bumi Syam.
*dinukil dari sirah nabawiyah karya Ibnu Hisyam Hal 754
Cat : Untuk kisah lebih lengkapnya mengenai kisah Perang Mu'tah ini bisa dibaca dari sirah nabawiyah karya Ibnu Hisyam atau karya Syekh Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri atau klik link https://almanhaj.or.id/5484-perang-mutah.html atau https://youtu.be/siw46NcudFA
Referensi :
- Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah
- Siauw, Felix (2013). Muhammad Al-Fatih 1453. Jakarta : Alfatih Press
- El-Shirazy,Habiburrahman (2014). Api Tauhid. Jakarta : Republika
- Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah
Komentar
Posting Komentar