Road to "The City With Perfect Defense" #6

Muhammad II (Mehmed II) lahir dari keluarga keturunan Utsmani. Dia merupakan anak ketiga dari Sultan Murad II, cucu dari Utsman Ghazi (peletak kesultanan Utsmaniyah dan pewaris Kesultanan Saljuk yang telah ada sebelumnya). Mehmed II lahir di Edirne, 29 Maret 1432* --  8 tahun setelah pengepungan Konstantinopel oleh ayahnya, Murad II. Dikatakan bahwa, ketika menunggu kelahiran anaknya ini, Sultan Murad II sedang menenangkan dirinya dengan membaca Al-Qur'an dan lahirlah anaknya ini ketika bacaannya sampai pada surat Al-Fath, surat yang didalamnya berisi janji - janji Allah SWT akan kemenangan kaum muslimin. Anak inilah yang kelak ditakdirkan untuk menjadi ahlu bisyarah yang membuktikan ucapan Rasulullah SAW dan menjadi sebaik - baiknya panglima.

Mengapa ia di nobatkan sebagai sebaik - baiknya panglima? Karena dari kecil ia sudah di didik sebaik mungkin oleh ayahnya untuk menjadi seorang Ghazi. Ketika masih berumur 2 tahun, ia dikirim ke Amasya untuk mempelajari pemerintahan bagi keluarga kesultanan. Ketika berumur 6 tahun, ia diangkat menjadi gubernur Amasya menyusul kematian tiba-tiba kakanya, Ahmed. Setelah 2 tahun memimpin Amasya, ia bertukar tempat dengan kakaknya, Ali untuk memimpin Manisa dan tak lama setelah itu, Ali pun dibunuh dan tinggallah Mehmed seorang yang menjadi tumpuan harapan bagi ayahnya, Murad II.
Sejak awal di Manisa, Mehmed selalu di kelilingi oleh ulama - ulama terbaik pada zamannga dan ia mempelajari berbagai disiplin ilmu, baik ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur'an, tsaqafah Islam, Fiqh, maupun ilmu - ilmu umum lainnya seperti Astronomi, bahasa, kimia, fisika, dan teknik perang dan kemiliteran. Ia memiliki watak yang cukup keras dan gemar melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh anak seumurannya. Diusia 8 tahun, ia berhasil menghafalkan Al-Qur'an dan mempelajari etika belajar dibawah tempaan Syaikh Ahmad Al-Kurani. Namun, ulama yang sangat berpengaruh membentuk mentalnya menjadi seorang penakluk adalah Syekh Aaq Syamsuddin. Bersama Syekh Aaq Syamsuddin inilah, ia belajar mengenai sirah Nabi SAW, sirah sahabat Nabi SAW, dan syekh Aaq Syamsuddin juga selalu mengingatkannya akan kemuliaan menjadi Ahlu Bisyarah yang dapat menaklukan Konstantinopel dan meyakinkan padanya bahwa ia adalah ahlu bisyarah tersebut. Sehingga dengan perkataan itulah, ia termotivasi dan mempunyai kemauan yang keras akan ahlu bisyarah tersebut.

Di usia kurang dari 17 tahun, ia dapat menguasai bahasa Arab, Turki, Persia, dan juga fasih berbicara bahasa Prancis, Yunani, Serbia. Hebrew, dan Latin. Ketertarikan luar biasa juga ia tunjukan pada ilmu sejarah, geografi, syair, puisi, seni, serta ilmu teknik terapan. Keahliannya dalam perang pun ia tunjukan dalam seni berkuda dan strategi. Sebagian besar waktunya ia habiskan diatas kuda. Dari semua hal yang ada pada dirinya, yang paling mempesona adalah kedekatannya dengan sang Maha Pencipta, Allah SWT. Ia selalu bertaqarrub kepada Allah SWT. Dia adalah salah satu panglima yang tidak pernah masbuq dalam shalatnya, tidak pernah meninggalkan shalat Rawatib, dan tidak pernah pula ia meninggalkan shalat tahajud semasa ia baligh sampai ia meninggal.

Ketika berusia 12 tahun, ia mengemban amanah dari ayahnya untuk menjadi seorang sultan. Selama menjadi seorang sultan ia dibantu oleh wazir kepercayaan ayahnya yaitu Halil Pasha dan di masa kepemimpinannya ini terjadi beberapa pemberontakan yang menyebabkan ia harus kembali menjadi gubernur di Manisa. Ia tidak putus asa, melainkan ia selalu mempelajari sebab kegagalannya dalam memerintah, menjalin hubungan dengan para pasukan dan aparatur negara, mempersiapkan strategi baru untuk menaklukan Konstantinopel dan terutama mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, dzat yang ditangan-Nya seluruh hati berada dan dzat pemberi kemenangan yang nyata. Sampai akhir pemerintahan ayahnya, Murad II, Manisa menjadi tempat penempaannya menjadi penakluk yang terbaik. Dalam jangka waktu 2 tahun, ia berhasil membenahi seluruh kekurangan dan kelemahannya dan membuktikannya pada Oktober 1448 dengan mengikuti ayahnya memerangi pasukan Hungaria di Kosovo. Pasca itulah, ia selalu muncul dalam ekspedisi yang dilancarkan oleh ayahnya hingga tiba kematian ayahnya, Murad II ia dinobatkan kembali menjadi Sultan pada 18 Februari 1451.
Usianya baru 19 tahun ketika itu dan dunia barat baik Konstantinopel maupun Eropa masih meremehkannya dan menganggapnya masih anak ingusan yang catatan kepemimpinannya begitu buruk. Namun orang yang bertemu dengannya akan terkesan, wajahnya tampan, dengan tinggi sedang dan berbadan kekar. Siapapun yang melihatnya akan terpaku pada kedua bola matanya yang tajam seolah melihat sesuatu jauh ke arah masa depan. Dia seorang pemuda yang memiliki kekerasan niat, fleksibilitas, kecerdikan akal, keberanian. Ia mampu menyihir musuh dengan wajah tenangnya seolah dia tidak memikirkan apa apa padahal didalam otaknya bergelut strategi yang begitu efektif untuk menaklukan Konstantinopel. Seseorang yang ahli ibadah, tidak pernah lepas untuk meminta doa dari para ulama terutama Syekh Aaq Syamsuddin dan Syekh Ahmad Al-Kurani, dan selalu menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai figur terbaiknya begitulah sederhananya.
Olehnya musuh akan dikejutkan dengan tipu muslihat perangnya sehingga ia dijuluki
"Elang yang Gagah dan Perkasa" oleh orang Barat setelah penaklukan besar yang ia lakukan terhadap Konstantinopel terjadi pada 29 Mei 1453. 



*menurut sumber lainnya, ia dilahirkan 26 Rajab 833 H (20 April 1430)




Referensi :
  • Siauw, Felix (2013). Muhammad Al-Fatih 1453. Jakarta : Alfatih Press 

Komentar