Road to "The City With Perfect Defense" #7
"Jika penaklukan Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti. Kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadist ini, berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada para pasukan satu persatu bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini akan menambah ketinggian dan kemuliaan islam. Untuk itu wajib bagi setiap pasukan menjadikan syariat selalu di depan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat - tempat peribadatan dan gereja - gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran"Begitulah isi khutbah Sultan Muhammad II pada saat akan melakukan serangan umum terhadap Konstantinopel, 29 Mei 1453. Khutbah ini dilakukannya setelah shalat tahajud yang ia laksanakan bersama pasukannya. Sebelumnya, Senin, 28 Mei 1453, sultan dan pasukannya berpuasa sunnah sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar memudahkan penaklukan dengan menyucikan diri dari maksiat kepada-Nya serta meluruskan niat bahwasannya penaklukan ini dilakukan karena Allah semata.
Kala itu langit masih gelap dan pengepungan sudah memasuki hari ke-54. Saat itu masih pukul kurang lebih 01.00 dini hari, namun tirai panggung penaklukan telah terbuka, perlahan aktor mulai berdatangan siap memainkan skenario terbaik Tuhan sang Pencipta Alam dalam kisah penaklukan yang akan selalu terkenang sepanjang masa, Selasa 29 Mei 1453 -- 20 Jumadil Ula 857 H.
29 Mei 1453, menjadi puncak pengepungan dan puncak perseteruan antara Sultan Muhammad II (Mehmed II) dan Constantine Palailogos XI, pemimpin Byzantium pada masa itu. Selepas sholat tahajud dilaksanakan, sultan lalu membagi pasukannya menjadi 2 gelombang yaitu gelombang pertama didominasi pasukan azap* dan gelombang kedua didominasi oleh para Akinci dan Sipahi*. serangan dibagi menjadi 3 titik utama, yaitu tembok mesoteichion antara gerbang St. Romanus dan gerbang Charisian di lembah Lycus sebagai titik pusat penyerangan, Istana Blachernae, dan gerbang militer II disebelah selatan tembok. Pasukan laut juga menyerang melalui laut Marmara dan Teluk tanduk emas.
Setelah perintah mulai dikumandangkan, meriam ditembakan ke segala arah memecah kesunyian di dalam Konstantinopel. Para pasukan mulai menyerbu tembok dengan cara menaikinya melalui tangga diringi sorak takbir yang menggema tanpa henti. Pasukan azap maju laksana mencari kematian yang mulia dan pertempuran oleh pasukan azap ini memakan waktu sekitar 2 jam.
Setelah melihat musuh berada dalam ambang kekalahan, sultan pun menarik pasukannya untuk beristirahat dan melakukan shalat subuh. Setelah shalat subuh didirikan, sultan mengerahkan pasukan gelombang kedua dan melepaskannya laksana singa yang kelaparan dan terlepas dari rantainya. Artileri terus ditembakkan tanpa henti selama 54 hari, 5.400 peluru telah menghantam tembok Konstantinopel dan memporak porandakannya. Pasukan yeniseri yang hanya tertinggal 7 ribu orang dikerahkan sultan ke medan pertempuran. Namun kesemua itu tak dapat membuat Konstantinopel jatuh begitu saja. Dan pada akhirnya disaat yang sangat kritis, harapan kaum muslimin mulai bergelora kembali. Pada saat itu, 50 tentara muslim dibawah pimpinan Karaja Pasha berhasil memanjat tembok istana Blachernae dan mengganti bendera St. Mark dengan bendera Utsmani. Di arena utama pertempuran tepatnya di gerbang St. Romanus, tembakan meriam berhasil memecah tembok dan memutar balik keadaan. Giustiniani, pimpinan perang Byzantium terluka parah disana dan dibawa keluar untuk mengakhiri pertempuran. Pada waktu yang sama juga, sikap keksatriaan ditunjukan oleh salah seorang prajurit Utsmani, Hasan Ulubat. Didampingi 30 tentara yeniseri lainnya ia mendobrak pertahanan pasukan bertahan, merangsek masuk ke atas dan segera menancapkan bendera utsmani di gerbang Saint Romanus. Takbir menggelegar, menyambar bumi Konstantinopel. Melihat bendera berkibar, sultan dan pasukan berseru, "Kota itu milik kita!". Gelombang pasukannya pun tak tertahankan memasuki kota melalui lubang yang menganga besar di mesoteichion. Teriakan "kota telah jatuh!" mulai menggema memenuhi langit Konstantinopel yang semakin suram. Panik yang nyata melanda seluruh penjuru kota, para penduduk mulai menyelamatkan diri mereka. Kaisar Constantine pun segera pergi dari kota dengan menaiki kudanya. Kekaisaran Byzantium yang telah berdiri selama 1.143 tahun 10 bulan 4 hari telah berakhir. Konstantinopel telah jatuh dan semuanya telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa janji Allah dan Rasul-Nya itu benar.
29 Mei 1453 - 05:37, Sultan Muhammad II memasuki kota melalui gerbang Charisian ditemani para ulama, para Chavus, pasukan yeniseri, para mehter, dan tentunya syekh Aaq Syamsuddin yang selama pengepungan selalu menyertainya. Semenjak itu, dibelakang nama Sultan Muhammad II selalu terpampang nama "Al-fatih" . Konstantinopel menjadi milik kaum muslimin dan namanya diubah menjadi Istanbul yang berarti penuh dengan islam, dan menjadi kota yang paling ikonik dan penuh dengan nilai sejarah sampai sekarang.
*pasukan azap, pasukan non reguler
*pasukan akinci dan sipahi, pasukan Anatolia dan Eropa dengan perlengkapan perang yang lebih baik
Referensi :
- Siauw, Felix (2013). Muhammad Al- Fatih 1453. Jakarta : Alfatihpress
Komentar
Posting Komentar